Seorang ulama yang hidup di zaman Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan:
“Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi Saw.”
Sangat pentingnya ihsan dalam beramal ini sehinggakan Imam Malik mengatakan:
“Sunnah Rasulullah Saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”
Tradisi kaum muslimin di zaman lalu berkaitan dengan amalnya dalam kehidupan sehari-hari selalu menyandarkan kepada tuntutan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga untuk masalah yang kecil seperti bagaimana tatacara bersuci dari hadas besar atau kecil sampai urusan muhasabah penguasa selalu mengikuti petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja hal semacam itu menjadikan kaum muslimin generasi terdahulu sentiasa berada di jalan yang benar dalam aktiviti kehidupan sehari-harinya. Mereka berlumba-lumba dalam kebaikan, bukan semata-mata berlumba-lumba dalam banyaknya amal (perbuatan). Firman Allah:
“...supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (Qs. al-Mulk [67]: 2).
Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya.
Namun, tradisi kaum muslimin generasi mutaakhirin (sekarang ini) ternyata sudah mulai melupakan atau bahkan tidak lagi menghiraukan petunjuk-petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya ketika melakukan aktiviti dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar apabila akhirnya kaum muslimin kesulitan dalam melakukan pelbagai amal. Malah ada yang akhirnya menempuh cara-cara yang tak pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam urusan amar ma’ruf nahi munkar kaum muslimin tidak lagi menempatkan dirinya pada kedudukan yang benar. Dengan kata lain, cara-cara yang ditempuh tidak sejalan dengan sunnah Nabi saw. Iaitu lebih ke arah yang menghalalkan segala cara. Ertinya, ketika ingin membetulkan kesalahan, ternyata cara yang diambil bertentangan dengan Islam. Jadi, membenarkan kesalahan dengan kesalahan.
Dengan demikian, amal yang baik (ihsan) menurut salah seorang guru Imam Syaifi’i, iaitu Fudlail bin ‘Iyadl ketika menjelaskan ayat 2 surat al-Mulk [67] adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanyakan. “Wahai Abu Ali, apakah maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah SWT, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi Saw.” (Fauzy Sanqarth, At-Taqorrub ila Allah Thoriqut Taufiq).
Di antara tanda-tanda ikhlas adalah tunduk kepada kebenaran, dan menerima nasihat sekalipun dari orang yang lebih rendah tahap keilmuannya. InsyaAllah bila kita mengikuti perintah dan tuntutan dari Allah dan Rasul-Nya dalam beramal ini, amal yang kita kerjakan tidak akan sia-sia, dan tentu saja dinilai sebagai amal yang ihsan (baik).
Wallahu’alam..
Bersilaturahmi : Bukti Cinta Saudara
Pagi tadi, saya berbincang tentang tajuk yang saya kira menarik bersama beberapa wanita.. Tajuknya adalah "Silaturahmi".. Kenapa saya tidak mengatakan silaturahim?? Apakah silaturahmi dan silaturahim dua benda yang berbeza?? Sebenarnya, silaturahim adalah kesalahfahaman masyarakat Malaysia tentang silaturahmi.. Kerana mereka beranggapan bahawa silatura'rahim' adalah dari rahim.. Silatu'rahim' bukankah maknanya penyayang??.. Bukan ikatan persaudaraan. Maka, saya menulis entri ini agar kita sesama manusia khususnya umat Islam jelas tentang peri pentingnya silaturahmi ini..
Bilakah waktu yang tepat untuk kita bersilaturahmi?
Kepada siapa kita perlu bersilaturahmi?
Apa yang harus kita bualkan ketika bersilaturahmi?
Apa yang kita rasakan ketika bersilaturahmi?
Apa yang orang rasakan ketika kita mensilaturahmi dirinya?
Berapa kali dalam hidup kita harus bersilaturahmi?
Ada banyak perkara yang boleh membuatkan hidup kita lebih bahagia. Salah satunya adalah melakukakan silaturahmi. Silaturahmi dalam bahasa mudahnya adalah bertamu, bagi sebagian orang bahasa lainnya adalah menyiapkan topik perbualan yang panjang, sementara ada juga yang mengertikannya sebagai sarana atau alat untuk mempererat atau merapatkan tali persaudaraan satu sama lain.
Silaturahmi mungkin salah satu aktiviti sosial yang paling senang. Hanya berkunjung ke tempat tinggal seseorang dan bicara atau berbual dengannya. Pun agak mudah silaturahmi boleh juga dilaksanakan di pasar raya ataupun cafe tertentu. Manusia memerlukan interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lain.

Ketika Allah SWT melarang fanatisme jahiliah (‘ashabiyah jahiliyah), hal itu kerana Allah SWT sesungguhnya melarang menjadikan fanatisme kesukuan sebagai pengikat di antara umat Islam, sekaligus melarang berhukum dengannya dalam hubungan antara kaum Muslim. Namun, Allah SWT telah memerintahkan kaum Muslim agar menjalin hubungan dengan keluarga serta berbuat baik kepada mereka. Imam Al-Hakim dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari jalur sanad Thariq al- Muharibi bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Tangan orang yang memberi [nafkah] itu tinggi [kedudukannya]. Mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian saudara perempuanmu, kemudian saudara laki-lakimu, kemudian yang dekat denganmu
dan yang dekat denganmu.”
Dari Asma’ binti Abu Bakar r.a., dia pernah berkata: “Ibuku datang kepadaku, sedangkan ia adalah wanita musyrik pada masa Quraisy (Jahiliah), karena mereka telah membuat perjanjian
dengan Nabi mengenai anaknya. Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah SAW. Aku berkata, “Ibuku datang kepadaku, sedangkan ia ingin bertemu denganku.” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, sambunglah tali silaturahmi dengan ibumu.”
Islam telah menjadikan keluarga itu ada dua : (1) keluarga yang mewarisi seseorang jika orang tersebut meninggal dunia; (2) keluarga yang memiliki hubungan silaturahmi (dzawil arham). Mereka yang berhak mendapatkan warisan adalah orang-orang yang berhak mendapat warisan (ashhabul furudh) dan para ‘ashabah.
Sementara orang-orang yang memiliki hubungan silaturahmi (dzawil arham) adalah selain mereka; mereka tidak mendapatkan bagian dari warisan (ashhabul furudh), dan bukan pula para ‘ashabah. Mereka ini (dzawil arham), berjumlah sepuluh orang yaitu: (1) pak cik (saudara lelaki ibu); (2) mak cik (saudara perempuan ibu); (3) atok dari pihak ibu; (4) anak lelaki dari anak perempuan; (5) anak lelaki dari saudara perempuan; (6) anak perempuan dari saudara lelaki; (7) anak perempuan dari pak cik (saudara lelaki bapa); (8) mak cik (saudara perempuan bapa); (9) pak cik dari ibu; (10) anak lelaki dari saudara lelaki seibu; serta siapa saja yang menjadi keturunan salah seorang dari mereka. Allah SWT tidak menjadikan mereka berhak mendapatkan warisan dari seseorang sama sekali. Namundemikian, Allah SWT memerintahkan untuk menjalin hubungan silaturahmi dan berbuat kebaikan kepada keluarga secara keseluruhan.
Jabir RA. menuturkan bahawa Nabi SAW pernah bersabda: “Jika seseorang di antara kalian fakir, maka hendaklah ia memulai [nafkah] kepada dirinya sendiri; jika ia memiliki kelebihan,
hendaknya ia memberikannya kepada keluarganya; dan jika masih memiliki kelebihan, hendaknya ia memberikannya kepada kaum kerabatnya.” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).
Abu Ayyub al-Anshari RA juga bertutur demikian: “Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam syurga?” Orang-orang berkata, “Ada apa dengannya, ada apa dengannya?” Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah Tuhan bersamanya?” Beliau melanjutkan, “Engkau
menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan solat, menunaikan zakat, dan menjalin silaturahmi.” (HR Bukhari)
Hadits ini memerintahkan silaturahmi. Tapi hadits tersebut dan hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan silaturahmi, tidak menjelaskan apakah silaturahmi itu kepada dzawil al-arham saja atau kepada setiap orang yang memiliki hubungan nasab (arham) dengan seseorang. Yang jelas, hadits-hadits itu bersifat umum, mencakup setiap orang yang memiliki hubungan silaturahmi; baik mahram maupun bukan; baik dari para ‘ashabah maupun dzawil al-arham. Mereka semua itu dapat dikatakan sebagai orang-orang yang memiliki hubungan nasab (arham).
Banyak hadits yang menyinggung silaturahmi ini, misalnya, sabda Rasulullah SAW berikut:
“Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi.” (HR Muslim, dari jalur sanad Jubair bin Muth’im).
Anas ibn Malik menuturkan bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Siapa saja yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahminya.”
Abu Hurayrah r.a. juga menuturkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan makhluk. Tatkala telah selesai, bangkitlah rahim (tali persaudaraan) seraya berkata, “Di sinilah tempat orang yang menjaga diri dari keterputusan.” Allah SWT berfirman, “Ya, relakah engkau jika Aku akan berhubungan dengan orang yang menyambungkan diri denganmu dan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan
denganmu?” Rahim menjawab, “Baiklah.” Allah SWT melanjutkan, “Itulah bagianmu.”
Setelah itu, Nabi saw bersabda, “Jika kalian mahu, bacalah olehmu ayat ini:
“Sekiranya kalian berkuasa, apakah kalian akan membuat kekacauan di bumi dan memutuskan hubungan silaturahmi dengan kerabat kalian?” (TQS Muhammad [47]: 22).” (Muttafaq ‘alaihi,
mengikuti lafal al-Bukhari).
Rasulullah SAW juga bersabda: “Bukanlah orang yang menghubungkan tali silaturahmi itu adalah yang membalas hubungan baik. Akan tetapi, orang yang menghubungkan tali silaturahmi itu adalah orang yang ketika diputuskan silaturahminya, dia menyambungkan kembali hubungan itu.” (HR Bukhari, dari jalur sanad Abdullah bin ‘Amr).
Nash-nash di atas semuanya menunjukkan dorongan untuk menjalin silaturahmi. Silaturahmi ini menunjukkan sejauh mana hubungan silaturahmi dan kasih sayang di antara komuniti Islam yang ditetapkan Allah SWT dalam hal menjalin silaturahmi dan tolong menolong di antara kerabat. Silaturahmi juga menunjukkan sejauh mana perhatian syariah Islam terhadap pengaturan pergaulan lelaki dan wanita, serta pengaturan segala hubungan yang muncul dan menjadi implikasi dari adanya pergaulan tersebut.
Wallahu'alam..
Bilakah waktu yang tepat untuk kita bersilaturahmi?
Kepada siapa kita perlu bersilaturahmi?
Apa yang harus kita bualkan ketika bersilaturahmi?
Apa yang kita rasakan ketika bersilaturahmi?
Apa yang orang rasakan ketika kita mensilaturahmi dirinya?
Berapa kali dalam hidup kita harus bersilaturahmi?
Ada banyak perkara yang boleh membuatkan hidup kita lebih bahagia. Salah satunya adalah melakukakan silaturahmi. Silaturahmi dalam bahasa mudahnya adalah bertamu, bagi sebagian orang bahasa lainnya adalah menyiapkan topik perbualan yang panjang, sementara ada juga yang mengertikannya sebagai sarana atau alat untuk mempererat atau merapatkan tali persaudaraan satu sama lain.
Silaturahmi mungkin salah satu aktiviti sosial yang paling senang. Hanya berkunjung ke tempat tinggal seseorang dan bicara atau berbual dengannya. Pun agak mudah silaturahmi boleh juga dilaksanakan di pasar raya ataupun cafe tertentu. Manusia memerlukan interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lain.

Ketika Allah SWT melarang fanatisme jahiliah (‘ashabiyah jahiliyah), hal itu kerana Allah SWT sesungguhnya melarang menjadikan fanatisme kesukuan sebagai pengikat di antara umat Islam, sekaligus melarang berhukum dengannya dalam hubungan antara kaum Muslim. Namun, Allah SWT telah memerintahkan kaum Muslim agar menjalin hubungan dengan keluarga serta berbuat baik kepada mereka. Imam Al-Hakim dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari jalur sanad Thariq al- Muharibi bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Tangan orang yang memberi [nafkah] itu tinggi [kedudukannya]. Mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian saudara perempuanmu, kemudian saudara laki-lakimu, kemudian yang dekat denganmu
dan yang dekat denganmu.”
Dari Asma’ binti Abu Bakar r.a., dia pernah berkata: “Ibuku datang kepadaku, sedangkan ia adalah wanita musyrik pada masa Quraisy (Jahiliah), karena mereka telah membuat perjanjian
dengan Nabi mengenai anaknya. Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah SAW. Aku berkata, “Ibuku datang kepadaku, sedangkan ia ingin bertemu denganku.” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, sambunglah tali silaturahmi dengan ibumu.”
Islam telah menjadikan keluarga itu ada dua : (1) keluarga yang mewarisi seseorang jika orang tersebut meninggal dunia; (2) keluarga yang memiliki hubungan silaturahmi (dzawil arham). Mereka yang berhak mendapatkan warisan adalah orang-orang yang berhak mendapat warisan (ashhabul furudh) dan para ‘ashabah.
Sementara orang-orang yang memiliki hubungan silaturahmi (dzawil arham) adalah selain mereka; mereka tidak mendapatkan bagian dari warisan (ashhabul furudh), dan bukan pula para ‘ashabah. Mereka ini (dzawil arham), berjumlah sepuluh orang yaitu: (1) pak cik (saudara lelaki ibu); (2) mak cik (saudara perempuan ibu); (3) atok dari pihak ibu; (4) anak lelaki dari anak perempuan; (5) anak lelaki dari saudara perempuan; (6) anak perempuan dari saudara lelaki; (7) anak perempuan dari pak cik (saudara lelaki bapa); (8) mak cik (saudara perempuan bapa); (9) pak cik dari ibu; (10) anak lelaki dari saudara lelaki seibu; serta siapa saja yang menjadi keturunan salah seorang dari mereka. Allah SWT tidak menjadikan mereka berhak mendapatkan warisan dari seseorang sama sekali. Namundemikian, Allah SWT memerintahkan untuk menjalin hubungan silaturahmi dan berbuat kebaikan kepada keluarga secara keseluruhan.
Jabir RA. menuturkan bahawa Nabi SAW pernah bersabda: “Jika seseorang di antara kalian fakir, maka hendaklah ia memulai [nafkah] kepada dirinya sendiri; jika ia memiliki kelebihan,
hendaknya ia memberikannya kepada keluarganya; dan jika masih memiliki kelebihan, hendaknya ia memberikannya kepada kaum kerabatnya.” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).
Abu Ayyub al-Anshari RA juga bertutur demikian: “Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam syurga?” Orang-orang berkata, “Ada apa dengannya, ada apa dengannya?” Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah Tuhan bersamanya?” Beliau melanjutkan, “Engkau
menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan solat, menunaikan zakat, dan menjalin silaturahmi.” (HR Bukhari)
Hadits ini memerintahkan silaturahmi. Tapi hadits tersebut dan hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan silaturahmi, tidak menjelaskan apakah silaturahmi itu kepada dzawil al-arham saja atau kepada setiap orang yang memiliki hubungan nasab (arham) dengan seseorang. Yang jelas, hadits-hadits itu bersifat umum, mencakup setiap orang yang memiliki hubungan silaturahmi; baik mahram maupun bukan; baik dari para ‘ashabah maupun dzawil al-arham. Mereka semua itu dapat dikatakan sebagai orang-orang yang memiliki hubungan nasab (arham).
Banyak hadits yang menyinggung silaturahmi ini, misalnya, sabda Rasulullah SAW berikut:
“Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi.” (HR Muslim, dari jalur sanad Jubair bin Muth’im).
Anas ibn Malik menuturkan bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Siapa saja yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahminya.”
Abu Hurayrah r.a. juga menuturkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan makhluk. Tatkala telah selesai, bangkitlah rahim (tali persaudaraan) seraya berkata, “Di sinilah tempat orang yang menjaga diri dari keterputusan.” Allah SWT berfirman, “Ya, relakah engkau jika Aku akan berhubungan dengan orang yang menyambungkan diri denganmu dan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan
denganmu?” Rahim menjawab, “Baiklah.” Allah SWT melanjutkan, “Itulah bagianmu.”
Setelah itu, Nabi saw bersabda, “Jika kalian mahu, bacalah olehmu ayat ini:
“Sekiranya kalian berkuasa, apakah kalian akan membuat kekacauan di bumi dan memutuskan hubungan silaturahmi dengan kerabat kalian?” (TQS Muhammad [47]: 22).” (Muttafaq ‘alaihi,
mengikuti lafal al-Bukhari).
Rasulullah SAW juga bersabda: “Bukanlah orang yang menghubungkan tali silaturahmi itu adalah yang membalas hubungan baik. Akan tetapi, orang yang menghubungkan tali silaturahmi itu adalah orang yang ketika diputuskan silaturahminya, dia menyambungkan kembali hubungan itu.” (HR Bukhari, dari jalur sanad Abdullah bin ‘Amr).
Nash-nash di atas semuanya menunjukkan dorongan untuk menjalin silaturahmi. Silaturahmi ini menunjukkan sejauh mana hubungan silaturahmi dan kasih sayang di antara komuniti Islam yang ditetapkan Allah SWT dalam hal menjalin silaturahmi dan tolong menolong di antara kerabat. Silaturahmi juga menunjukkan sejauh mana perhatian syariah Islam terhadap pengaturan pergaulan lelaki dan wanita, serta pengaturan segala hubungan yang muncul dan menjadi implikasi dari adanya pergaulan tersebut.
Wallahu'alam..
Istiqamahkah Kita?

Istiqamah adalah sikap hidup seorang muslim di dalam menjalani kehidupan ini. Ia berjalan lurus ke depan menuju keredhaan Allah. Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafy r.a. pernah meminta mutiara nasihat kepada Rasulullah saw. untuk memandu jalan hidupnya. Ia mengatakan:“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya suatu kalimat yang menyimpulkan pengertian Islam, sehingga saya tidak perlu bertanya kepada yang lain”. Nabi Muhammad saw. menjawab: “Katakanlah aku percaya kepada Allah, kemudian tetaplah lurus dengan pengakuan itu” (HR. Muslim).
Imam Nawawi dalam kitab Riyadlus Shalihin menerangkan maksud kalimat Rasulullah saw. itu adalah : Perbaharuilah imanmu dengan penuh kesedaran, dengan bentuk ucapan yang disertai pengertian dan tanggung jawab atas pengakuan ucapan tersebut. Sikap istiqomah itu itu merupakan perintah Allah kepada Rasul-Nya. Dia SWT berfirman:
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud:112).
Menurut Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya: istiqamah adalah terus-menerus di suatu arah tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri; maka tetap istiqomahlah dalam mentaati perintah Allah. Ad Darimi dalam Musnadnya meriwayatkan dari Utsman bin Hadlir Al Azadi yang mengatakan: “Aku masuk ke ruangan Ibnu Abbas sambil berkata: Nasihatilah aku!” Dia menjawab: “Ya, hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah dan istiqamahlah. Ikuti Sunnah Rasulullah dan janganlah membuat bid’ah”.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menejelaskan bahwa Allah SWT memerintah para hamba-Nya yang mukmin agar menetapi dan mendambakan sikap istiqamah. Sikap istiqamah itulah yang sangat membantu kaum muslimin mendapatkan pertolongan dan kemenangan atas musuh-musuhnya.
Jenis-jenis istiqamah
Istiqamah memegang Islam tentu pada seluruh persoalan kehidupan. Sebab Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, Sang Pencipta dan Pemeliharan alam semesta. Dalam hal ini Islam memiliki perangkat peraturan tentang aqidah dan ibadah. Islam mewajibkan seorang muslim memegang keimanannya kepada Islam sampai akhir hayatnya dan mengharamkannya untuk murtad. Islam juga mewajibkan agar seorang muslim hanya beribadah kepada Allah semata. Allah SWT berfirman:
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."(QS. Al Kahfi :110).
Islam memiliki seperangkat peraturan tentang makanan, pakaian, dan akhlaq untuk mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Seorang muslim dituntut konsisten dengan aturan-aturan itu sehingga ia tetap lurus di jalan taqwa. Sekalipun untuk itu mungkin ia mengalami kerugian kebendaan. Contohnya seorang yang telah berjanji untuk datang tepat pada waktu wajib menyewa teksi agar ia boleh memenuhi janji itu.
Ketika seorang muslim dituntut adil, ia berlaku adil kepada semua orang termasuk kepada dirinya sendiri. Ia menjauhkan diri dari sikap cuai, iaitu menuntut adil buat dirinya, tetapi melalaikan keadilan itu terhadap orang lain, lebih-lebih kepada orang yang dianggap musuh. Seorang yang tetap istiqamah, tetap pula keadilannya kepada orang lain, sekalipun kepada musuhnya. Ia hanya ingin memenuhi seruan Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Maidah : 8).
Dengan kesedaran bahawa Allah Maha Mengetahui segala perbuatannya, seorang muslim akan tetap istiqamah untuk segala persoalan hidup, baik ketika ia melihat dirinya, ia berhubungan dengan Rabb-nya, ataupun ketika berhubungan dengan manusia yang lain. Dalam masalah muamalah contohnya, seorang muslim akan tetap memegang aturan Islam dalam masalah muamalah. Ia akan berjual beli menurut hukum syariah Islam. Ia akan meninggalkan riba, sekalipun dalam riba itu ada keuntungan kebendaan. Jika ada perselisihan di antara dia dengan orang lain ia akan tunduk dengan petunjuk hukum Allah dan Rasul-Nya, sekalipun dengan hukum Allah itu mungkin dia akan kalah dalam perkara tersebut.
Berkat dari sikap istiqamah
Dan orang yang tetap istiqamah akan mendapatkan berkat dari Allah SWT dengan diberi rezeki oleh-Nya. Dia berfirman :
"Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)."(QS. Al-Jin:16).
Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Nabi yang termasuk asabiqunal awwalun yang tetap istiqamah dalam perjuangan menegakkan agama Islam baik di Mekah ataupun di Madinah ternyata tidak pernah kekurangan rezeki sampai akhir hayatnya. Demikian juga Utsman bin Affan dan sahabat-sahabat lainnya yang ahli dalam perdagangan. Allah memastikan bahawa orang yang istiqomah adalah tidak akan dirundung rasa takut dan sedih. Dia SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita."(QS. Al-Ahqaf:13).
Dalam ayat lain Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang tak punya rasa takut dan sedih hati itu adalah para wali Allah. Allah SWT berfirman:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."(QS Yunus:62).
Ya, para wali Allah itu adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang yang tenang dan tegar menghadapi segala persoalan hidup, serta tenang dan tegar pula menghadapi kematian.
Ketika kaum muslimin masih terdiri dari kelompok dakwah di Mekah dan Quraisy pun menghadapi mereka dengan pelbagai cara, termasuk dengan cara fizikal, khususnya terhadap mereka yang lemah (mustadl’afin). Contohnya apa yang telah dilakukan Quraisy terhadap Yasir dan keluarganya. Melihat keadaan yang menyedihkan itu, Rasulullah saw. tidak mempunyai kuasa untuk membebaskan mereka, malah beliau menguatkan iman mereka dengan menyuruh bersabar. Beliau saw. bersabda:
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesuangguhnya janji Allah untuk kalian adalah sorga”.
Sumayyah dengan tegar menghadapi kematian dengan menjawab ucapan Rasulullah saw. itu: “Kami telah melihatnya dengan jelas wahai Rasulullah”.
Sikap istiqamah itupun masih tetap dimiliki oleh kaum muslimin tatakala mereka telah memiliki negara di Madinah. Setelah perang Uhud, pernah terjadi tragedi yang menimpa enam orang pasukan perisikan kaum muslimin di daerah Raji’. Mereka dikepung Bani Hudzail. Tiga orang daripada mereka telah gugur sebagai syahid. Tiga orang selebihnya ditawan iaitu Abdullah bin Thariq, Zaid bin Datsanah, dan Khubaib bin Adi. Abdullah bin Thariq yang berjaya melepaskan ikatan di tangannya akhirnya dibunuh, manakala dua lagi sahabatnya dibawa ke Mekah dan dijual kepada para pembesar Quraisy. Kedua sahabat Rasulullah saw. dihukum mati. Tapi keduanya yang lurus dalam iman dan amal ini dengan tenang menghadapi kematian itu tanpa keraguan pun demi membela agama Allah. Zaid bin Datsanah tatkala hendak dihukum ditanya oleh Abu Sufyan: “Hai Zaid, aku minta engkau bersumpah demi Allah, apakah engkau engkau senang seandainya Muhammad saat ini berada di sisi kami untuk menggantikanmu, lalu kami penggal lehernya sedangkan engkau dipulangkan kepada keluargamu?”. Dengan tegas Zaid menjawab: “Demi Allah, seandainya Muhammad saat ini disakiti oleh sebuah duri di rumahnya, aku tidak akan rela berdiam diri di tengah-tengah keluargaku”. Mendengar ucapan yang tegas dan mengagumkan itu Abu Sufyan berkata kepada orang-orang yang hadir di tempat pembantaian itu : “Aku tidak pernah melihat seorang manusia yang mencintai seseorang seperti cintanya para sahabat Muhammad mencintai Muhammad”. Khubaib bin Adi yang dihukum di tempat yang sama diberi izin untuk melaksanakan solat sepuas-puasnya sebelum hukuman dilaksanakan. Setelah selesai solat, Khubaib berkata kepada mereka: “Demi Allah, seandainya kalian tidak menganggap aku melambat-lambatkan waktu dari pelaksanaan hukuman ini dengan solat, niscaya aku akan memperbanyak solat”. Khubaib pun disalib dan dibunuh.
Jiwa istiqamah ini pulalah yang disebut Nabi saw. tatkala menerangkan bagaimana pejuang agama di masa lalu. Beliau mengatakan: “Sungguh telah berlalu orang-orang sebelum kalian. Mereka itu digergaji dengan gergaji dan disalib di pokok-pokok kayu dan disula dengan sula besi sehingga daging mereka koyak. Namun itu semua tidak memalingkan mereka dari agamanya”.
Sikap istiqomah itu pulalah yang menyebabkan para mantan tukang sihir Fir’aun bersikap tegar dan tenang menghadapi ancaman hukuman dari Firaun lantaran keimanan mereka. Dengan tegar mereka berkata kepada Firaun:
Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)" (QS. Thaha:72-73).
Al Ustadz Muhamamd Ali As Shabuni mengutip keterangan Ikrimah dalam tafsir Al Qurthubi tentang para mantan tukang sihir Firaun yang beriman kepada apa yang dibawa Musa itu. Kata Ikrimah: Tatkala mereka bersujud Allah menampakkan kepada mereka di dalam sujud mereka tempat-tempat mereka di syurga. Lantaran itulah mereka boleh berkata demikian” (lihat As Shabuni, Shafwatut Tafaasiir, Juz II/220).
Khatimah
Itulah teladan orang-orang mukmin di masa lalu yang tetap istiqamah sekalipun menghadapi risiko dibunuh. Maka bagaimana pula kita boleh tidak istiqomah dalam mengemban Islam dan mundur dari perjuangan menegakkan syariat Allah ini kalau hanya menghadapi risiko-risiko duniawi, seperti susah mendapatkan pekerjaan, pangkat, harta dan lain-lain yang masih dibawa risiko kematian?
Wallahu'alam.
Subscribe to:
Posts (Atom)


